Molecular Stress dalam Stress Fisik dan Psikis

•February 16, 2009 • Leave a Comment

Stress merupakan suatu kondisi tertekan, bisa tertekan secara kejiwaan maupun tertekan secara fisik, misal pada beberapa atlet olah raga yang mengalami pelatihan berat. Stress juga merupakan suatu kondisi yang meyertai kehidupan manusia, tidak ada manusia hidup yang bebas dari segala macam stress. Dalam kadar yang tertentu, stress itu baik untuk melatih tubuh kita secara fisik dan mental agar menjadi lebih kuat dan teruji. Namun, jika stress itu berlebihan dan berkepanjangan, tentu saja akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan kita. Hal ini sudah merupakan pengetahuan umum yang ada di masyarakat, tetapi tidak banyak orang yang mengetahuinya mengapa stress dapat mempengaruhi keadaan-keadaan di atas dan apa akibatnya pada tingkat selular.

Saat kita stress oleh karena berbagai sebab, misal bekerja keras sepanjang hari, bertengkar, di PHK ataupun berhadapan dengan singa, pusat emosi kita dalam otak, akan mengantarkan pesan-pesan saraf (impuls) ke hipothalamus, yaitu suatu bagian dari pusat emosi kita yang terletak dibagian dasar dan tengah otak besar. Kemudian, hipothalamus akan mengolah impuls saraf tersebut, memproduksi dan melepaskan suatu zat yang disebut CRH (Corticothropin Releasing Hormone) kepada bagian otak lain yang berada dibawahnya, hipofisis atau pituitari. CRH selanjutnya akan merangsang hipofisis untuk melepaskan ACTH (Adrenocorticotropin Hormone) ke dalam sirkulasi darah.

ACTH yang membanjiri sirkulasi darah suatu saat akan mencapai kelenjar adrenal yang berada di atas ginjal kanan dan kiri lalu memerintahkan kelenjar ini untuk memproduksi dan mengeluarkan zat yang sudah lama kita kenal yaitu adrenalin, noradrenalin dan kortisol. Keseluruhan rantai sinyal di atas sering disebut sebagai HPA aksis (Hipothalamus-Pituitary-Adrenal).

Adrenalin dan noradrenalin inilah yang bertindak sebagai “komando” dalam tubuh kita selanjutnya dalam memerintah kan berbagai macam organ untuk merubah ritme dasar proses fisioligisnya menjadi lebih cepat dan kuat. Beberapa efeknya adalah sebagai berikut. Pertama, hormon ini meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung serta meningkatkan tekanan darah, dengan maksud untuk meningkatkan suplai oksigen, nutrien, metabolit dan zat lainnya melalui darah ke organ-organ tubuh lainnya, terutama otak dan otot. Kedua, adrenalin dan noradrenalin merelaksasi otot-otot polos dalam saluran napas, sehingga ruang saluran napas menjadi lebar, aliran udara dan pertukaran gas (Oksigen dan Karbondioksida) menjadi lebih optimal. Ketiga, mengoptimalisasi proses pemecahan cadangan energi dalam otot sehingga siap digunakan untuk menghasilkan energi, menghambat pembentukan cadangan energi dalam liver dari glukosa dan lemak. Dengan demikian meningkatkan kadar gula dan asam lemak dalam darah untuk siap digunakan. Ketiga efek di atas menyebabkan kita siap untuk “fight”, secara fisik dan meningkatkan fokus dari pikiran kita terutama saat menghadapi suatu stressor.

Sepintas proses di atas memang penting secara evolusi dalam kehidupan suatu spesies, karena untuk menghadapi suatu stressor dibutuhkan energi ekstra. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama atau kronis, stress yang dialami terus menerus (konstan) akan membawa efek merugikan bagi tubuh itu sendiri. Beberapa efek merugikan yang telah disebutkan di atas jika dialami dalam jangka waktu yang lama antara lain meningkatnya kadar gula darah, di dunia medis disebut sebagai hiperglikemia, meningkatnya tekanan darah (hipertensi), dan meningkatnya kadar asam lemak (trigliserida) dalam darah. Di samping beberapa hal tersebut, ingat, masih ada satu jenis hormon lagi yang diproduksi oleh kelenjar adrenal yaitu kortisol. Di antara efek kortisol, yang terpenting di sini adalah memobilisasi lemak dan menurunkan kekebalan tubuh dengan menhambat pembentukan mediator inflamasi. Dalam kondisi normal, efek kortisol ini penting untuk meregulasi sistem kekebalan tubuh. Namun, jika kadarnya berlebihan oleh sebab stress yang berkepanjangan dapat menurunkan kekebalan tubuh dan akibatnya, tubuh kita sering terinfeksi dan mudah menjadi sakit.

Di atas telah disebut kan fungsi CRH untuk menstimulasi hipofisis agar melepaskan ACTH, tapi ada efek lain dari CRH, yaitu menghambat dilepaskannya FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone), dua jenis hormon seks yang penting perannya dalam memelihara fungsi organ reproduksi manusia. Jadi dapat dikatakan CRH yang berlebih akibat stress dapat menurunkan fnngsi reproduksi manusia dan akhirnya mengganggu fertilitas. Mekanisme ini penting artinya secara evolusi, pikirkan apakah ada makhluk hidup yang bisa bereproduksi dengan tenang padahal ada predator yang akan memangsanya?

Kortisol dalam darah diangkut oleh CBG (Corticosteroid Binding Globulin) dan sebagian kecil diangkut oleh SHBG (Sex Hormone Binding Globulin). Wanita memiliki lebih banyak SHBG dalam darah dibanding pria. Fungsi SHBG adalah untuk mengangkut hormon seks, yaitu testosteron, estrogen dan progesteron, dalam darah dan mengangkut sebagian kecil dari kortisol. Ketika kortisol berikatakan dengan SHBG, ia tidak memiliki efek biologis untuk mempengaruhi sel-sel dalam tubuh seperti uraian diatas, dan hanya kortisol bebas yang bisa memberikan efeknya. Dengan fakta itu, salah satu sebab wanita lebih lama mengalami efek stress adalah karena kortisol yang dilepaskan kelenjar adrenal dan membanjiri sirkulasi darah tidak secara langsung memberikan efeknya pada sel, namun sedikit demi sedikit dilepaskan dari SHBG.

Banyak Konsumsi Buah: Benarkah Menyehatkan?

•February 16, 2009 • Leave a Comment

Sebagian besar orang beranggapan bahwa mengkonsumsi buah dalam jumlah besar sangat menguntungkan bagi kesehatan dengan asumsi bahwa buah mengandung nilai gizi yang tinggi dibandingkan dengan bahan makanan yang lainnya. Tentu saja hal tersebut benar jika nilai gizi yang dimaksud adalah kandungan vitamin yang tinggi dalam buah, serat, baik serat larut air (pektin dan gum) yang ada pada kacang-kacangan dan kulit apel, dan serat tidak larut air (selulosa dan hemiselulosa) dan beberapa zat lain yang memang penting bagi kesehatan tubuh kita dalam kadar tertentu dalam buah, misalkan trace element (tembaga, seng, magnesium, mangan, dsb).

Selain kandungan buah di atas, jangan lupa juga bahwa buah juga mengandung kadar karbohidrat yang tinggi dalam bentuk gula buah atau disebut juga sukrosa dalam jumlah besar. Gula buah atau sukrosa merupakan salah satu bentuk karbohidrat disakarida yang jika dikonsumsi, di dalam saluran cerna akan dipecah oleh enzim disakaridase menjadi glukosa dan fruktosa, dua jenis gula yang berbeda dari konfigurasi molekulnya. Glukosa sendiri akan diserap oleh tubuh dan menjadi sumber energi utama dalam tubuh manusia yang sering kita sebut sebagai sumber energi karbohidrat, terutama untuk sel neuron (sel otak) dan sel darah merah, karena kedua jenis sel ini hanya bisa memanfaatkan karbohidrat sebagai sumber energi. Saat kita makan (fed state), jumlah glukosa yang diserap tentu saja akan melebihi kadar gula yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Dengan demikian, “kelebihan” ini akan menghambat rantai metabolisme glukosa yang sensitif akan penumpukan energi melalui inhibisi sejumlah enzim pemecah glukosa. Proses tersebut akhirnya menghalangi pemecahan glukosa lebih lanjut untuk menghasilkan energi, dan sebaliknya, glukosa akan disimpan dalam liver dan otot dalam bentuk glikogen. Semua proses ini diregulasi oleh insulin. Hasilnya, gula darah tetap dipertahankan dalam batas-batas normal.

Akan tetapi tidak demikian halnya yang terjadi pada fruktosa. Setelah diserap dari saluran cerna, fruktosa akan memasuki tahapan metabolisme karbohidrat melalui jalur alternatif. Berbeda dengan jalur metabolime glukosa, jalur metabolisme alternatif ini tidak sensitif terhadap penumpukan energi dibelakang proses “mesin” pemecahnya. Progresivitas prosesnya terus berlanjut, dan konsekuensinya, terjadi penumpukan muatan zat pembentuk energi dalam rantai respirasi, yaitu sitrat (merupakan hasil kondensasi antara acetil coA dengan oksaloasetat). Tubuh kita menyikapi penumpukan sitrat dengan membalikkan proses dalam rantai respirasi untuk mengeluarkan acetil coA dari sitrat.

Acetil CoA kemudian akan menjadi substrat pembentukan cadangan energi berupa asam lemak baik jenuh maupun tak jenuh dan kolesterol. Asam lemak dalam bentuk triacilglicerol (dulu disebut trigliserida) dan kolesterol akan diekspor dari liver ke dalam darah untuk disimpan dalam sel-sel lemak di seluruh tubuh. Alat pengangkutnya disebut sebagai VLDL (Very Low Density Lipoprotein). VLDL yang sudah kehilangan banyak kandungan triacilglicerol nya karena sudah tersimpan dalam sel lemak, akan menjadi LDL (Low Density Lipoprotein) dengan hanya mengandung kolesterol.

Penelitian terkini juga menyebutkan pada beberapa orang yang memiliki sindroma malabsorpsi fruktosa (fructose Intolerance) akibat transporternya yang defisit pada dinding usus, konsumsi fruktosa berlebih akan mengakibatkan perut terasa kembung dan diare. Fenomena itu disebabkan oleh tersedianya fruktosa dalam usus untuk difermentasikan oleh bakteri komensal. Akumulasi fruktosa dalam usus dapat juga membentuk kompleks dengan tryptophan, suatu asam amino esensial, dan mengganggu penyerapannya. Defisiensi tyrptophan akan mengurangi kadar zat-zat yang merupakan produk dari metabolisme tryptophan, antara lain serotonin (neurotransmitter dalam otak dan dalam saluran cerna), dan melatonin (sleep hormone). Beberapa gejala akan muncul sebagai akibat kekurangan serotonin, yaitu depresi dan gangguan tidur (berkurangnya melatonin).

Dari keseluruhan proses yang telah dijelaskan di atas mengimplikasikan bahwa konsumsi buah yang berlebih akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Oleh karena itu, konsumsi buah harus tetap dibatasi dan sebaiknya tidak “dicemil” (dimakan diantara jam makan utama) namun dimakan saat sesudah makanan utama, yaitu setelah makan pagi, siang maupun malam (clustering). Dengan demikian penumpukan energi dari fruktosa diharapkan akan menghambat pembentukan energi dari glukosa. Akhirnya tubuh menggunakan fruktosa sebagai sumber energinya saat makan (fed state) dan menyimpan glukosa sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen. Konsumsi buah juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi individu, terutama pada individu dengan intoleransi fruktosa.

Mengapa Eugenic Policy Gagal?

•February 16, 2009 • Leave a Comment

Kesempurnaan biologis merupakan cita-cita setiap bentuk kehidupan di alam semesta ini melalui proses evolusi yang terlarut dalam tekanan seleksi alam, suatu proses bebas kehendak, nirmoral, dan tak terarah. Begitu juga kehendak manusia yang selalu mengharapkan segala macam kesempurnaan, serta perubahan-perubahan yang diarahkan untuk menuju perbaikan. Untuk menuju kesempurnaan dimaksud tidak luput membutuhkan suatu mekanisme, suatu proses yang bergerak dalam suatu sistem hasil rekayasa terarah, merupakan suatu analogi proses evolusi berdasar adaptasi yang juga merupakan suatu proses berkesinambungan. Bedanya, manusia menyadari proses ini, mengarahkan dan tidak lepas dari kekangan etika atau moral. Segala macam upaya dilakukan manusia untuk maksud-maksud itu. Namun, tidak sedikit di antaranya yang harus menemui jalan buntu atau bahkan tenggelam seiring tumbuh kembang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebuah refleksi proses pencapaian kesempurnaan secara biologis adalah melalui jalan pemilihan “bibit unggul” dalam variasi genetis. Pemilihan ini diharapkan mampu membawa suatu perubahan menuju perbaikan nasib biologis atas dasar kesempurnaan genetis sepanjang sejarah evolusi. Sebuah sistem yang ditentang oleh berbagai pihak karena mengabaikan nilai-nilai moral yang ada, yaitu kebijakan eugenik. Kebijakan eugenik secara kasar menjadikan manusia seperti tanaman dengan berbagai jenis variasi sifat atau karakter, dan tentu saja dengan kemampuannya untuk mewariskan sifat atau karakter itu ke generasi berikutnya. Sifat dan karakter yang diwariskan, diharapkan merupakan sifat atau karakter yang dianggap unggul, sehingga secara teoritis dapat membawa perubahan populasi menuju ke arah perbaikan ataupun menjurus ke arah tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh sekelompok orang. Misalnya, pemilihan bibit unggul pada manusia dengan kapasitas fisik nya yang tinggi untuk digunakan sebagai “alat perang”.

Supaya populasi di generasi berikutnya memiliki karakter yang lebih unggul dibanding generasi berikutnya, tidak cukup dengan hanya melestarikan dan menghasilkan galur-galur murni dengan kualitas terbaik, tapi juga dengan memusnahkan variasi-variasi genetis yang merugikan atau dianggap menghambat kemajuan evolusi artifisial suatu populasi. Kebijakan semacam ini pernah diterapkan oleh Jerman semasa perang dunia kedua, di mana orang-orang yang diyakini membawa bibit-bibit ungul ras Arya ditempatkan dalam ladang-ladang reproduksi. Sedangkan orang-orang yang menderita cacat bawaan sejak lahir atau diduga memiliki cacat genetis yang tercermin dalam fenotipnya dikumpulkan dalam tempat berkedok rehabilitasi atau bahkan di kamp-kamp konsentrasi untuk di “sterilisasi”. Kebijakan immoral yang kontroversi, tetapi mendapatkan tempat dalam sejarah.

Akan tetapi, sejalan dengan berkembangnya ilmu genetika, kebijakan ini dinilai tidak relevan, karena untuk mensterilisasi cacat genetis memerlukan waktu yang panjang, bahkan mencapai ribuan tahun. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan beberapa alasan. Pertama, banyak dari cacat genetis yang dimaksud memiliki bentuk pewarisan resesif, yang artinya dibutuhkan dua gen cacat (diploid) untuk dapat muncul sebagai fenotip yang cacat pula. Frekuensi gen yang cacat ini jumlahnya kecil dalam populasi, apalagi jumlah individu yang cacat, jumlahnya akan jauh lebih kecil, metode diagnostik yang adapun belum tentu dapat mendeteksi kelainan genetik yang ada jika individu yang membawanya tidak menampakkan kelainan secara fenotip (individu heterozygot). Kedua, jika seleksi alam buatan dikenakan hanya pada individu yang cacat, dengan proporsi yang sangat kecil dibanding dengan proporsi individu carrier (heterozigot), pengaruhnya terhadap frekuensi gen tersebut setelah satu generasi hampir bisa diabaikan. Misalkan suatu cacat genetis resesif memiliki frekuensi gen 1:100 dalam populasi, maka frekuensi orang yang sakit adalah 1:10000 dan frekuensi carrier adalah 1:50, jadi jika besar populasi ada sepuluh ribu orang, ada 1 individu cacat dan 198 orang carrier. Untuk setiap generasi jika homozigot gagal breproduksi atau terseleksi, maka dua gen cacat atau 1% dari jumlah gen cacat dibuang dan 198 carrier tetap bereproduksi. Frekuensi gen tersebut pada generasi berikut hanya berkurang 0,5%. Dengan asumsi untuk munculnya satu generasi diperlukan waktu 20-25 tahun, maka untuk mengurangi frekuensi gen itu di populasi menjadi setengahnya saja diperlukan 100 generasi dalam waktu lebih kurang 2000 tahun! Alasan ini memberikan kebijakan eugenik sebuah figur yang sangat absurd.

Ketiga, kebijakan ini tidak memperhitungkan adanya mutasi baru pada tiap-tiap generasi, yang berakibat pada keseimbangan antara mutasi-seleksi pada masing-masing generasi.  Mekanisme  ini adalah salah satu faktor penyebab frekuensi penyakit genetik tetap dari waktu ke waktu.

Intron dalam Evolusi Makhluk Hidup

•February 16, 2009 • Leave a Comment

Dua abad telah berlalu sejak Charles Darwin mengemukakan terorinya tentang evolusi. Sebuah teori berdasarkan hasil refleksi pikiran dan observasinya terhadap variasi pada banyak spesies di kepulauan Galapagos. Teori evolusi ini menitikberatkankan pada mekanisme adaptasi makhluk hidup terhadap perubahan lingkungan fisik, di mana yang paling adapted lah yang memiliki kesempatan untuk survive paling tinggi dari generasi ke generasi suatu spesies atau dengan kata lain survival of the fittest. Perubahan lingkungan yang dimaksud di sini adalah suatu fenomena random dan tidak memiliki rencana jangka panjang, sehingga kemampuan suatu spesies untuk tetap bertahan hidup tergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi pada lingkungan yang baru. Jika demikian halnya maka pola adaptasi makhluk hidup pun mengikuti pola acak tersebut dan tidak disadari. Jadi pola adaptasi yang terjadi tidak memiliki arah yang jelas, dan bersifat trial and error.

Mekanisme adaptasi menurut Darwin dimediasi oleh adanya variasi individu. Tiap-tiap generasi spesies akan melahirkan keturunan dengan variasi-variasi dari bentuk asalnya, variasi yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah saat itu lah yang bisa bertahan hidup dan mewariskan sifatnya pada generasi berikutnya. Sementara variasi makhluk hidup yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan dikatakan mengalami seleksi alam. Berdasar asumsi tersebut Darwin berpendapat bahwa proses adaptasi berulang berdasar variasi spesies inilah yang menjadi penggerak roda evolusi. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana suatu spesies memiliki kemampuan melahirkan banyak variasi yang dapat memfasilitasi mekanisme adaptasi?Bagaimana peran materi genetik pada proses ini? Jawaban atas pertanyaan itu akan diuraikan di bawah ini, tapi sebelum melangkah lebih jauh, akan lebih baik apabila struktur materi genetik dijelaskan lebih dahulu.

Ekson, dalam bahas inggris ditulis exon, awalan “ex” mengandung arti expressed element, yang berarti elemen yang diekspresikan, merupakan bagian terpenting dari suatu gen, karena ia membawa pesan dalam DNA yang nantinya akan ditranslasikan oleh ribosom dalam sitoplasma melalui mRNA. Ekson tedapat dalam utas mRNA yang matur. Bagian lainnya dari DNA yang ditranskripsikan menjadi utas RNA belum matur, hnRNA (heterogenous nuclear RNA) atau primary transcript, yang berada diantara ekson namun tidak ada lagi pada utas mRNA matur disebut sebagai intron –awalan “in” berati intervening sequence- bagian ini tidak penting artinya dalam membawa pesan atau kode genetik dan akan dipotong (spliced).

Intervening sequence atau intron ini tersebar dalam gen makhluk hidup eukariotik. Sebagian besar gen, walaupun tidak semua, pada eukariotik memiliki intron. Hal ini berbeda dengan gen pada prokariot yang tidak memiliki intron sama sekali, dengan kata lain, hampir semua bagian dalam mRNA prokariot pasti akan ditranslasi. Dikatakan hampir karena ada bagian dari mRNA bukan intron yang tidak ditranslasi namun memiliki peran dalam meningkatkan afinitas ribosom, meningkatkan akurasi ribosom dalam mengenali suatu kodon inisiator, yaitu Shine-Dalgarno consensus sequences, dan terminator sequences teori mengenai proses tersebut tidak akan dibahas lebih lanjut dalam uraian ini.

Fungsi dan awal mula intron pada genom eukariotik sampai saat ini masih diperdebatkan, dan muncul berbagai macam teori, namun secara garis besar teori-teori tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu teori yang menyatakan bahwa intron muncul pada makhluk hidup bersel satu pertama kali, teori ini lebih dikenal sebagai early introns. Seiring berevolusinya makhluk hidup, ada makhluk hidup yang terus mempertahankan keberadaan intron, seperti pada eukariot, dan ada makhluk hidup yang kehilangan intronnya, seperti pada prokariot. Sedangkan teori yang satunya lagi menyatakan bahwa intron muncul belakangan seiring evolusi makhluk hidup (late introns).

Seiring perkembangannya, teori early intron lebih banyak dianut oleh banyak ahli genetika evolusi sekarang karena memiliki sejumlah argumentasi yang dapat menjelaskan arti penting intron dalam memfasilitasi proses evolusi makhluk hidup. Pada dasarnya, bentuk-bentuk gen pada makhluk hidup yang ada sekarang berkembang dari bentuk awalnya (ancestral genes) melalui sejumlah proses duplikasi dan rekombinasi, kedua proses ini disebut juga genetic rearrangment. Contohnya, gen yang mengkode subunit dari hemoglobin, yaitu α dan β, serta gen yang mengkode myoglobin, diperkirakan memiliki bentuk awal yang sama, karena ketiganya memiliki jumlah ekson dan intron yang sama, demikian juga dengan panjang ekson dan intronnya yang mirip. Ketiganya memiliki 3 ekson dan 2 intron, di mana intron pertama lebih pendek daripada intron yang kedua. Sebagai perbandingan, bentuk awal dari gen-gen tersebut (ancestral genes) diwakilkan oleh gen homolognya yang terdapat pada ragi (yeast). Ancestral genes inipun memiliki jumlah ekson dan intron yang sama serta memiliki konfigurasi yang sama.

Ancestral genes ini diperkirakan mengalami duplikasi untuk membentuk myoglobin dan subunit hemoglobin. Kemudian dalam perkembangan lebih lanjut, gen subunit hemoglobin mengalami duplikasi kembali menjadi subunit α dan β. Ketiga gen hasil duplikasi ini selanjutnya berevolusi sendiri-sendiri, mengalami mutasi, dan sejumlah rekombinasi. Akibatnya, urutan basa nitrogennya menjadi tidak 100% sama, namun masih menunjukkan tingkat kemiripan yang tinggi melalui analisis terhadap beberapa conserved sequence, yaitu suatu urutan basa nitrogen yang dipertahankan karena memiliki peran yang penting sehubungan dengan fungsi protein yang dikodenya, stabilitas mRNA yang dihasilkannya, ataupun regulasi transkripsinya.

Contoh yang lain mengenai duplikasi DNA adalah duplikasi salah satu atau beberapa ekson pada suatu gen untuk menjadi bagian dari ekson gen lain. Sehingga dengan demikian, sebenarnya banyak gen yang ada sekarang memiliki bentuk-bentuk ancestral yang jumlahnya lebih sedikit. Dan antara gen yang satu dengan gen yang lain masih memiliki hubungan, baik karena berasal dari satu ancestral genes maupun karena mereka berbagi satu atau lebih ekson yang sama, karena ekson tersebut mengalami duplikasi selama evolusi. Gen-gen yang demikian disebut masih dalam satu famili jika tingkat kemiripian urutan basa nitrogen pada keseluruhan ekson dalam gen yang satu dengan gen yang lainnya itu mencapai 85% atau lebih.

Genetic rearrangement tidak hanya terjadi pada tingkat DNA, tapi juga pada tingkat RNA melalui sejumlah proses alternative splicing, dimana masing-masing ekson dalam untas hnRNA dapat “dipilih” untuk digunakan atau tidak tergantung kondisi yang mempengaruhi diekspresikannya gen tersebut. Keseluruhan proses ini memerlukan suatu mekanisme yang berfungsi mempertahankan integritas suatu gen atau unit-unit penyusunnya, yaitu ekson, agar suatu produk yang dikodenya tetap memiliki fungsi yang utuh. Jika suatu gen tidak memiliki intron, maka proses “utak-atik” gen seiring dengan perkembangan evolusi makhluk hidup harus dilakukan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Oleh karena urutan-urutan basa nitrogen dalam DNA tanpa intron, semuanya memiliki arti untuk mengkode suatu modul dalam protein dan memiliki fungsi tersendiri, apabila proses rearrangment dilakukan tanpa akurasi yang tinggi maka akan memotong informasi-informasi penting di dalamnya, akhirnya protein yang dihasilkan menjadi tidak berguna. Kendala ini dapat diatasi jika di sela-sela informasi atau kode genetik tersebut terdapat “ruang” yang dapat dipotong di banyak tempat tanpa merubah fungsi protein yang disandinya. Proses ini tidak memerlukan presisi yang tinggi dan memungkinkan proses genetic rearrangement berlangsung seiring dengan proses adaptasi makhluk hidup dalam berevolusi. Ruang antar ekson yang dimaksud di sini adalah intron.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.